Selasa, 01 Maret 2011

Kenapa Matematika itu Sulit?????


Pada zaman sekarang Matematika dianggap salah satu mata pelajaran yang dihindari, ditakuti, dibenci dll. Banyak siswa yang baru mendengar kata Matematika saja langsung bereaksi negatif.
Matematika selama ini menjadi momok menakutkan untuk dipahami dan diikuti. Bahkan matematika mungkin bisa diidentikan dengan hantu yang selalu menakuti jika bertemu. Sehingga sang anak saat belajar matematika selalu ”kalah sebelum berperang”. Mungkin ini lebih disebabkan karena langsung bertemu dengan rumus-rumus baku dan angka-angka. Apalagi bila diperkenalkan kepada pemula, siswa-siswi sekolah dasar kelas pertama dan kedua.



Padahal kenyataan membuktikan Matematika merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang mendapatkan porsi perhatian terbesar baik dari kalangan pendidik, orangtua maupun anak. Tidak sedikit orangtua yang mempunyai persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus dikuasai anak. Sayangnya, tidak semua anak dibekali kemampuan untuk berprestasi cemerlang di bidang matematika.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keberadaan Matematika dalam kehidupan kita sangat diperlukan. Tetapi mau tidak mau kita harus mengakui kenyataan kalau Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dihindari, ditakuti, dibenci dll. Banyak siswa yang baru mendengar kata Matematika saja langsung bereaksi negatif. Ada yang langsung mengeluh matematikanya sulit lah bahkan kadang sampai membawa-bawa sang guru, Gurunya galak ! Gurunya hobinya marah ! atau pendapat yang lain yang ikut membawa dampak penyakit bahwa Matematika itu adalah sesuatu yang menakutkan. Akibatnya sang anak belajar dengan perasaan yang tidak tenang sehingga pelajaran yang disampaikan jadi tidak optimal. Kondisi seperti ini membuat tidak hanya sang anak yang kebingungan tetapi orang tua pun sering dibuat kalang kabut (pusing memikirkannya). Segala daya dikerahkan para orangtua bagi anaknya. Mulai dari les sampai ikut bimbingan belajar.

Berikut ini beberapa hal yang “mungkin” langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan matematika itu sulit:

1. Faktor Intern

Yang dimaksud faktor intern adalah faktor Matematika itu sendiri. Matematika adalah pelajaran menuntut banyak analisa, perhitungan, logika dll (sehingga banyak siswa yang cenderung memilih menghafalkan dari pada berhitung).

2. Faktor Ekstern
Faktor Ekstern adalah faktor yang berada di luar Matematika dan terdiri dari guru dan siswa.

Guru

Guru memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan (sebenarnya lebih tepatnya pembelajaran). Penguasaan materi yang dicapai siswa tentu saja sedikit banyak tergantung pada guru. Hal yang patut diperhatikan dari faktor ini, yaitu tentang pola pengajaran dan perilaku guru.
Mungkin kebanyakan jaman dulu guru Matematika identik dengan galak karena beliau-beliau suka menghukum (istilah jaman dulu di strap) siswa jika mereka tidak mengerjakan soal. Hukuman tersebut juga lebih bersifat fisik, misalnya berdiri di depan kelas dengan satu kaki atau dipukul dengan penggaris (kejam ya?). Tentu saja jaman sekarang tidak ditemui model hukuman seperti itu (semoga saja) tetapi kesan guru galak sudah terpatri dan menyatu dengan Matematika. Hal tersebut seperti penyakit keturunan yang selalu turun temurun hingga anak cucu.
Misalkan seorang siswa sudah tidak senang dengan guru Matematika maka pelan-pelan dia akan apriori juga dengan Matematika. Guru kan bisa diibaratkan jembatan antara ilmu dengan siswa, jadi gimana siswa bisa menyeberang jika dia tidak melewati jembatan itu. Memang sih siswa bisa menyeberang dengan berenang atau naik perahu, tetapi tidak semua siswa bisa berenang atau menyewa perahu. Benar kalau ada yang bilang siswa kan juga manusia yang bisa belajar sendiri tanpa bantuan sang guru, siswa bisa otodidak.
Tetapi sekali lagi tidak semua siswa bisa berenang, tidak semua siswa bisa belajar sendiri tanpa bantuan guru. So, teacher will always have a very important role in education.
Bagaimana siswa bisa menyukai Matematika jika mereka tidak menyukai guru Matematika? Jadi untuk membuat siswa menyukai Matematika salah satu langkah awal yang bisa ditempuh adalah membuat siswa mencintai menyukai guru Matematika

Faktor siswa itu sendiri

Hal yang saya soroti di sini adalah sugesti dan motivasi. Banyak siswa yang sudah terbujuk legenda turun temurun kalau Matematika itu sulit dan gurunya menyebalkan. Legenda itu benar-benar telah men-sugesti siswa sehingga mereka cenderung kalah sebelum bertanding. Siswa cenderung terlanjur berpikir Matematika sulit sebelum mereka benar-benar mencoba Matematika. Yang kedua adalah motivasi. Sepertinya motivasi siswa untuk menaklukkan Matematika masih rendah, siswa baru tergopoh-gopoh mengejar Matematika setelah pemerintah menetapkan standar minimal kelulusan. Jadi tetap banyak manfaatnya juga pemerintah menetapkan standar kelulusan, setidaknya itu bisa menjadi pemicu siswa lebih rajin belajar Matematika. Saya masih ingat perkataan teman saya waktu Ospek dulu, teman saya tersebut (dia anak pemilik Pamela group di Jogja) berkata “You can if you think you can”. Perkataan itu benar-benar membekas di hati dan kepala saya, bukan berarti segala yang kita pikirkan pasti menjadi kenyataan tetapi perkataan tersebut menunjukkan arti penting motivasi dalam pencapaian prestasi diri.
Akhirnya…

Adakah solusi untuk memperbaiki keadaan Matematika tersebut? Ada salah satu cara yang sedang dikembangkan di Indonesia untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Memang cara tersebut masih sebatas dikembangkan di tingkat pendidikan dasar (yaitu SD), semua ini berdasarkan asumsi bahwa pendidikan dasar merupakan pondasi utama yang sangat menentukan kekuatan bangunan pendidikan secara keseluruhan. Yang sedang dikembangkan adalah cara belajar matematika realistik. Lalu adakah cara untuk membuat Matematika (benar-benar sebagai ilmu) menjadi lebih menyenangkan? Jawabannya adalah ada yaitu dengan Matematika realistik yang menyenangkan. Metode yang dirintis oleh Dirjen Dikti dengan menggandeng pemerintah Belanda tersebut membuat pembelajaran Matematika lebih menyenagkan. Dirjen Dikti membuat proyek bersama untuk mengadaptasi pendidikan matematika realistik dari Belanda supaya diterapkan di Indonesia. Kenapa Matematika Realistik lebih menyenangkan ? Karena matematika biasa seperti dulu dimulai dari rumus dan sesuatu yang abstrak untuk selanjutnya turun ke contoh-contoh soal dan kalau memungkinkan dengan soal-soal cerita (aplikasi). Sebaliknya, matematika realistik dimulai dari hal-hal yang riil (yang dialami) oleh siswa baru ke hal-hal yang lebih abstrak (rumus-rumus dll).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar